Sanksi Tegas PSSI bagi Wasit yang Berkinerja Buruk dan Kontroversial

source gambar : bolanusantara.com

Turnamen Liga 3 akhir-akhir ini mendapat sorotan lantaran sejumlah kericuhan terjadi. Kericuhan tersebut sebagian besar diduga lantaran adanya ketidakpuasan terhadap kinerja wasit. PSSI juga sudah mengultimatum para wasit yang controversial. Pengamat sepak bola Indonesia, yang juga coordinator Save Our Soccer Indonesia, Akmal Marhali, mengatakan PSSI selalu berjanji akan memberi sanksi tegas dan berat kepada wasit yang memimpin pertandingan tidak sesuai laws of the game sepak bola. Tetapi sejauh ini, tidak ada langkah konkret dari PSSI untuk memperbaiki kinerja wasit seperti penyegaran wasit maupun edukasi tambahan laws of the game.

Akmal mengatakan, “Yang terjadi dalam pemilihan wasit hanya seleksi fisik tidak kepada pengetahuan laws of the game termasuk tidak komprehensif screening psikologis wasit dalam memimpin laga.”

Beliau meminta rencana PSSI terkait sanksi berat kepada wasit harus ada unsure keterbukaan seperti penyampaian jenis hukuman, sosok wasit, dan berapa lama sanksi itu. Hal tersebut menjadi penting sebagai pembuktian kinerja PSSI bukan janji-janji manis saja.

“Indonesia saat ini darurat wasit bahkan krisis wasit. Penting saat ini tindakan tegas saat kompetisi berjalan kepada wasit yang tidak bisa memimpin sesuai aturan dan controversial. Paling parah wasit tidak bisa membedakan offside dan tidak foul atau tidak sehingga muncul polemic di lapangan,” katanya melanjutkan.

Akmal mengatakan offside dan pelanggaran merupakan hal mendasar bagi wasit sehingga sangat penting PSSI untuk mengistirahatkan wasit yang tidak kompeten. Terlebih saat ini gaji wasit sudah besar sehingga wasit harus kerja professional dan menjaga kemuliaan profesi. Bagi wasit yang tidak mampu bekerja baik, akan mendapat sanksi dan diumumkan ke public agar masyarakat thu PSSI tegas di seluruh Liga Indonesia.

Sebelumnya, PSSI telah mengultmatum wasit Liga 3 yang bermasalah setelah muncul protes terhadap kinerja wasit dalam laga Bandung United melawan Farmel FC pada Minggu (20/2/2022). Selanjutnya laga Persedikab Kediri vs Maluku FC dan Karo United vs Persida Sidoarjo yang berakhir ricuh juga, diduga akibat ketidakpuasan terhadap kinerja wasit.

Contoh Kinerja Buruk Wasit di Liga 3

Contoh buruknya kepemimpinan wasit terjadi dalam laga Bandung United melawan FC di Stadion Jala Krida Mandala AAL, Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (20/2) sore. Dalam pertandingan tersebut, Bandung United harus turun dnegan tujuh pemain. Ada empat pemain yang diberi kartu merahm yaitu Saiful (50’), Rizki Arohman (60’), kiper Satrio Azhar Aisy (89’) dan Kapten tim Andri Febriansyah (90+1’).

Manager Bandung United Yoyo S. Adiredja menilai hukuman kartu merah terhadap empat pemainnya itu sangatlah konyol. Seperti pemberian kartu merah terhadap Saiful. Sesaat sebelum terjadi hukumna kartu merah, pemain Bnadung United Rizki Arohman terlihat kesakitan stelah bertabrakan dengan pemain lawan Abdul Kadir Jailani Toyo. Semestinya Rizki mendapat perawatan medis. Tetapi, pemain Farmel FC Andreas Naipos justru melanjutkan permainan. Dalam situasi tersebut, Saiful menghampiri wasit untuk memberi tahu bahwa rekannya masih tersungkur. Dia meminta wasit menghentikan pertandingan untuk sementara. Namun, Saiful justru langsung diberi kartu merah.

“Menurut kami, perangkat pertandingan yang bertugas dalam pertandingan itu sangat controversial dan merugikan Bandung United,” tegas Yoyo.

Wasit yang bertugas dalam pertandingan tersebut adalah Andri Noveandra asal Kota Pekanbaru, Riau. Dia dibantu asisten wasit I Jaka Prasetia asal Jakarta Selatan dan asisten wasit II M. Kemal Muzafar asal Jakarta Selatan. Kemudian ada Rukmana Aprisal dari Kabupaten Manokwari selaku wasit cadangan. Maryono asal Kabupaten Semarang bertugas sebagai penilai wasit dan Christian Ariando asal Kota Baru menjadi Match commissioner.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *